Jumat, 28 September 2012

Kangen Mbak Yumi

Sore ini mendadak gw kangen ama mbak Yumi. Gw ketemu mbak Yumi tahun 2009 lalu. Saat itu, gw lagi dapet penugasan dari kantor untuk Dinas Luar Negeri ke Hanoi Vietnam. Gw akan meliput beberapa kegiatan tentang anak-anak. Jadi sekitar dua atau tiga bulan sebelum jadwal keberangkatan, gw harus mendapatkan informasi yang diperlukan dan mendapatkan seorang guide untuk menemani selama gw dan cameramen gw, Shitra liputan di Hanoi.

Atas perantara komunitas masyarakat hanoi di sana, saya berkenalanlah dengan mbak Yumi ini. Mbak Yumi adalah Warga Negara Indonesia yang tinggal di hanoi. Kami pun berlanjut berkomunikasi melalui telepon. Dan dari mendegar suaranya saja, gw bisa menyimpulkan klo mbak Yumi ini asik, ramah dan mengerti mengenai hal-hal yang gw butuhkan selama di sana.

Singkat cerita, tanggal 8 februari 2009, gw dan kameramen berangkat ke negara Uncle Ho ini. Sampai di hotel, segera saja gw telpon yang namanya mbak Yumi. Tak berapa lama, mbak Yumi dateng sama anak perempuannya, namanya Quin... sapa gitu, gw agak lupa.



Selama liputan di Hanoi, mbak Yumi ini lebih dari ekspetasi gw. Dia sangat cerdas, cekatan, dan rela menemani kami seharian liputan dan jalan-jalan keliling kota Hanoi.

Siang itu, klo gak salah hari ke lima gw berada di Hanoi. Pulang liputan dan selesai belanja Coat di sebuah pasar tradisional di pinggir kota Hanoi, gw, kameramen dan mbak Yumi berisitirahat sejenak di sebuah kedai kopi.

"gak berasa udah hari kelima aja ya kita di sini, besok harus pulang ke Jakarta.." kata gw membuka obrolan siang itu. Mendadak muka mbak Yumi berubah. Wajahnya yang selalu ceria berubah sendu. Dan mendadak mengalirlah semua cerita hidupnya selama di hanoi yang selama lima hari ini gak kita ketahui.

Ternyata suami mbak Yumi baru meninggal 2 minggu sebelum kedatangan gw di Hanoi. Suaminnya kecelakaan dan koma di sebuah rumah sakit dan mbak Yumi gak tahu keadaanya sampai si suami menghembuskan nafas terakhir. Mbak Yumi baru mengetahui semuanya setelah suaminya meninggal. Jadi selama suaminya koma, pihak rumah sakit kesulitan menemukan pihak keluarga si suami untuk memberi tahu keadaanya.

Mbak Yumi cerita klo kedatangan gw dan Shitra adalah pelipur laranya. Gw jadi agak memaklumi kenapa selama lima hari ini mbak Yumi dengan semangat menemani kami dari pagi hingga larut malam. Gw jadi sadar klo selama lima hari ini gak pernah menanyakan soal keluarga mbak Yumi. Gw baru tahu klo mbak Yumi punya dua orang anak, selain si Quinc, ada lagi satu anak cowok yang masih berumur beberapa bulan.

Mbak Yumi juga lagi menimbang-nimbang antara terus menetap di Hanoi atau pulang ke Indonesia. Dia cerita klo di Hanoi lebih gampang nyari uang. Tapi tetap tinggal di negara orang, tanpa suami dan keluarga tentu bukanlah pilihan yang mudah. Dan mertua mbak Yumi juga mulai menahan anak mbak Yumi yang cowok, karena takut mbak Yumi pulang ke Indonesia dengan membawa kedua anaknya. Saat itu mbak Yumi benar-benar didera dilema.

Akhirnya hari ke enam pun tiba. Waktunya gw dan Shitra pulang ke Jakarta. Dengan diselimuti perasaan sedih, gw pun pamit sama mbak Yumi. Gak lupa, serangkaian doa gw lantunkan  agar mbak Yumi diberti ketabahan, kekuatan dan segala kemudahan hidup selama di Hanoi. Kami pun berjanji untuk selalu keep in touch melalaui email, karena mbak Yumi gak punya facebook :)

Hari berganti, kira-kira setahun setelah pertemuan kami di Hanoi, mbak Yumi menelpon gw. Dia bilang klo lagi di Jakarta dan mengajak untuk bertemu. Gw pun tersadar klo selama ini gw tak mampu menepati janji. Gw gak pernah menghubunginya, baik melalui email maupun telepon. Teman macam apa gw ini.

Kami pun bertemu. Mbak Yumi cerita klo akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke Jakarta bersama Quinc, sementara anaknya yang kedua ditinggal di hanoi bersama mertuanya. Mbak Yumi berniat mencari kerja di Jakarta dan nanti akan sesekali mengunjungi anak keduanya. Mbak Yumi pun meminta tolong gw untuk membantu mencarikan kerja di Jakarta. Gw bilang mungkin gw cuma bisa membantu memberikan CV ke HRD kantor tempat gw bekerja.

Setelah bertemu itu, mbak Yumi sempat menelepon gw mengabarkan klo dia sudah bekerja di sebuah hotel di Jakarta. Dan tak lama setelah itu handphone gw rusak, nomer telepon mbak Yumi pun hilang. Hingga hari ini gw gak pernah menghubungi mbak Yumi lagi. Gw pun tak tahu harus mencari kemana. Gw belum sempat menanyakan alamat tempat tinggalnya dan Hotel tempat dia bekerja. Satu penyesalan gw, gw tak pernah menepati janji untuk keep in touch dan membantu mbak Yumi. Dan sekarang gw kangen, kangen banget ama mbak Yumi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar